?

Log in

Previous Entry | Next Entry

Secret Behind The Golden Door

A gift, a promised fic for our lovely Estella Philomena de Conglée, saengil chukkaeyo... and of course for our beloved Luna Terraemaria de Conglée. Bon anniversaire!

 

 

Hai, namaku Estella Philomena de Conglée. Aku adalah salah satu anak yang paling disayang oleh ayah—meskipun sebenarnya ayahku mengatakan bahwa kami semua sangat beliau sayangi. Sebagai anak yang sangat aktif, aku sangat suka mengelilingi kastil kami yang luar biasa beeeeeesaaaaar, tapi cuma ada satu tempat yang aku favoritkan... yaitu sebuah pohon tua yang tumbuh di dekat kolam. Kalau kalian sudah mencariku ke seluruh penjuru kastil dan tidak bisa menemukanku, cari saja aku di balik dedaunan pohon itu. Hahahaha.

Tapi aku di sini bukan untuk menceritakan tentang diriku sendiri. Aku ingin menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang aku alami. Sebuah kejutan luar biasa yang tidak pernah aku perkirakan. Begini ceritanya...

Usiaku masih sangat muda hari itu. Aku yang masih kecil berlarian membawa selimut kesayangan Cho yang aku tahu dia dapatkan dari teman laki-lakinya—kejahilan itu sudah mendarah daging dalam keluarga kami. Aku berlari keluar dari kastil dengan tawa kecil jahilku. Saat itu aku melihat “Golden Bug” ayahku melaju masuk. Anak mana yang tidak merindukan ayahnya setelah ditinggal selama 3 minggu?

“POP!!!!” seruku sambil berlari ke arah titik dimana mobil itu biasa berhenti. Tak lama setelah mobil itu berhenti, supir pribadi ayah keluar dan membukakan pintu untuk ayah. Di sana aku melihat kejanggalan. Yang keluar bukan ayahku, tapi seorang remaja laki-laki yang tinggi dan kurus. Siapa itu? Aku berjalan ke arah supir pribadi ayah dan menarik ujung lengan seragamnya.

Oui, Mademoiselle?” dia bertanya dengan sopan.

“Pop mana?”

"Altesse sedang berada di perjalanan. Tunggulah sebentar, Mademoiselle.”

“Uh!” Aku memasang wajah cemberut.

“Nah! Sini kembaliin!” Tiba-tiba Cho datang merebut kembali selimutnya, tapi toh aku tidak peduli. Aku mau ayahku!

“Bapak!!!!”

Eh? Si Cho memanggil siapa? Aku menoleh dan melihat mobil ayah yang lebih modern datang ke arah kami. Ayah keluar dari sisi pengemudi. Tunggu, Pop, kenapa Pop mengendarai mobilnya sendiri?! Siapa laki-laki ini dan kenapa dia naik mobil klasik ayahku? Ayahku! Ayahku! Grrrr... Aku siap mengigit tampaknya saat itu.

“Ah! Ahn!” seru Pop saat melihat anaknya itu berlari ke arahnya. Pop mengangkatnya ke udara dan memutar-mutarnya dengan gembira sedangkan aku masih cemberut. Ketika ayahku menemukan sosokku yang tengah merajuk, aku memberangut mukaku hingga terlihat sangat jelek. Pop menghampiriku dan berjongkok hingga pandangannya lebih rendah dariku. Pop mulai menggelitikku hingga aku berhenti cemberut dan berusaha melepaskan diri dengan lucunya.

“Eit... eit.. mau kemana?! Mau kemana,” goda ayahku sambil terus membuat tertawa dengan tangannya. Akhirnya aku juga diangkat ke udara dan digendong di punggungnya. “Ayo masuk,” kata Pop pada Cho dan laki-laki itu.

Pintu ruang terluas di lantai tiga pun tertutup perlahan. Di sana semua saudaraku tengah berkumpul bersama kakek, nenek, ibu, paman, dan bibiku. Wah... ramainya—walaupun belum seramai sekarang. Mom berdiri menyambut kepulangan Pop.

“Inikah dia, suamiku?” tanya Mom sambil mengamati laki-laki yang mengekor Pop itu.

“Betul sekali,” jawab Pop sambil menurunkanku, “Perkenalkan dirimu.” Secara otomatis laki-laki itu menunjukkan dirinya ke seluruh anggota keluarga, menjadi pusat perhatian.

Bonjour, je m'appelle Choi Siwon. Je ne suis pas un Francais mais j'habite à France,” katanya dengan lancar dan sopan. Wow, aku tidak mengerti! Hahaha... aku tidak mengerti apa yang dia katakan selanjutnya. Eh? Tidak, aku tidak lupa. Emmm... mungkin sedikit lupa. Hahaha, tapi aku ingat waktu itu Grandma mengomentari 'kecerdasan' laki-laki muda itu dan Mom mengatakan sesuatu tentang anak sulung dan lain-lain. Hehe, jangan salahkan aku kalau aku tidak ingat.

*****

Entah kenapa Pop membawanya ke sini, ke kastil kami. Dia tidak bekerja seperti yang lain, dia malah duduk di kursi paling belakang pada kelas-kelas pelajaran kami, para puteri dari Conglée. Selama lebih dari satu tahun dia mengikuti pelajaran yang sama dengan kami, tapi tampaknya apa yang dia pelajari ada lima atau enam tingkat di atas Tian-unn, kakak tertua kami. Dia jarang berbicara pada kami. Dalam tempo satu hari saja jika kami bisa mendengar suaranya yang rendah itu menggema sekali saja sudah kami anggap sebagai anugerah. Hahaha... kenapa? Karena untuk ukuran kami yang masih sangat muda ini, wajah Siwon-ssi itu kelewat menarik—apalagi mengingat betapa tuanya semua pelayan di kastil kami ini sekarang.

Pop pernah mengatakan bahwa akan terjadi perubahan besar pada tatanan pekerja kastil ini pada waktu aku masih berusia 12 tahun. Waktu itu, Siwon-ssi sudah tidak tinggal di kastil kami. Pop mengirimnya ke suatu tempat yang jauh... kalau tidak salah... Cina atau Amerika, ya... begitulah... untuk menimba ilmu, katanya. Wah... aneh sekali ya? Revolusi pekerja itu ternyata bukan main-main... seluruh pekerja tua dipensiunkan dan sebagai gantinya puluhan pemuda diletakkan di dalam kastil. It's paradise~ huwahahahahahahaha!

Jangan tanya betapa senangnya aku saat itu. Semua yang segar dan tampan ada di hadapanku setiap saat. Semuanya memiliki karakter dan tingkat ketampanannya masing-masing. Sebut saja si muka bayi Kim Ryeowook dan dokter muda Shim Changmin. Ah.... benar-benar menyenangkan. Hahaha... tapi di bulan yang sama tahun kemudian, Choi Siwon kembali. Penampilannya sudah jauh berubah. Dia menjadi benar-benar seperti pangeran. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Dia—dia—dia ternyata dipersiapkan untuk menjadi asisten pribadi Pop! Aku tidak bisa memercayai ini. Pop! Pop! Pop! Wkwkwkwkwkwkwk...

Langkah agresif adalah langkah yang digunakan sebagian besar dari kami untuk melakukan pendekatan. Contohnya saja, Tian-unn dengan Junsu, Ei-unn dengan Sungmin, Cho dengan Kyuhyun, Neth dengan Yoochun, Maria dengan Jaejoong, Nai dengan Key, Aki dengan Minho, bahkan si bayi May juga cukup agresif dalam mencari perhatian semua orang. Dengan berdasar dari fakta tersebut—haiyah—aku juga menerapkan prinsip semi agresif pada orang yang aku sukai, tapi tampaknya, dari semua orang yang ada di kastil ini, hanya aku yang perlu berusaha sangat keras. Pop selalu menjauhkannya dariku. Tidak peduli seberapa kerasnya aku mencoba, Pop selalu ada di sana. Kenapa dia harus terus menempel dengan ayahku?! Ah... tentu saja, dia 'kan asisten pribadi Pop.

Tiap kali aku memanjat pohon keramatku, aku bisa melihat dia sedang berdiri di samping Pop yang tengah sibuk menandatangani dokumen-dokumen di kantornya. Dia jarang sekali menoleh. Huh, coba dia menoleh, tapi tampaknya dia merasakan tatapanku. Hahahaha... tentu saja! Tidak cuma Pop yang punya tatapan mematikan, tapi biasanya, ketika aku tengah memata-matai mereka, bukan Siwon-ssi yang menoleh. Pop, ya, Pop yang menoleh. Ah, kalau Pop yang menoleh aku pasti memilih untuk menyembunyikan teropong yang kupakai itu dan segera menghilang di balik dedaunan, menunggu salah satu dari saudaraku meneriakku untuk turun dari sana. (Tapi dalam banyak kejadian, sampai matahari terbenam pun tidak ada yang memanggilku T^T kecuali Ryeowook-ssi yang kebetulan sedang mengejar kucing yang selalu membuat masalah di pagi hari.)

*****

Pada sebuah kesempatan langka, aku yang sedang berjalan melalui koridor utama lantai puncak tepat di bawah lantai loteng bangunan utama akhirnya bisa berduaan saja dengan Siwon-ssi. Dia baru saja keluar dari ruang rekreasi keluarga kami. Dengan wajah yang sedikit terperangah, aku tersenyum—takut salah tingkah—dan dia membalasnya dengan senyum yang biasanya aku lihat ketika dia menebar senyum pada semua orang. Kali ini, senyum itu hanya untukku! Luar biasa sekali apa yang mampu dilakukan oleh satu senyum itu. Tanpa aku sadari, Siwon-ssi sudah menunduk sopan sebagai tanda ia minta diri dan pergi meninggalkan aku yang tengah tolol itu. Hahaha... benar-benar nuansa yang langka.

Kesempatan lain tidak terlalu membahagiakan untukku. Sewaktu aku berharap pertemuanku di koridor itu bisa terulang kembali, Pop dan Mom keluar dari ruang rekreasi beberapa detik setelah Siwon-ssi menutup pintunya. Mengapaaaaaaaaaa? Tampaknya Pop tidak sayang padaku T_____T Ketika semua saudaraku boleh melakukan pendekatan hingga tahap yang cukup dekat, aku... aku bahkan belum pernah mengobrol dengannya! Ahhhh!

Teman mengobrolku adalah Ryeowook-ssi dan Changmin-ssi. Sebenarnya aku memanggil mereka oppa ketika Pop sedang tidak ada di sekitar sana. Mereka dengan setia mendengar keluh kesah anak kecil sepertiku ini. Ah... seandainya saja itu Siwon-ssi. Huh!

Tapi ada satu hal yang benar-benar aku tidak bisa percaya. Ketika aku melewati koridor itu lagi—koridor dimana peristiwa langka itu terjadi—pada jam yang sama untuk menemui Pop di ruang rekreasi, aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan yang aku tidak mengerti. Dengan sebuah gelas kaca sederhana hasil jarahan dari baki logam Taeyeon yang kebetulan lewat, aku menyadap informasi dari daun pintu.

Father,” ucap sebuah suara berat, “minggu lalu mereka mempertanyakan status saya. Apakah saya masih anak mereka?” Anak? Siapa yang bicara itu? Aku tidak bisa mengingat suara siapa itu.

“Ah... my dear, tentu saja secara hukum begitu.” Kali ini suara Mom. Secara hukum?!

“Benar, secara hukum statusmu masih anak mereka.” Itu Pop yang berbicara. Apa ini sebenarnya?

“Begitu rupanya,” ujar suara berat itu lagi. “Saya akan menyampaikannya kepada mereka.” Hening sejenak. “Tapi, Father, apa ini tidak terlalu lama? Maksud saya, menyembunyikan semuanya dari para puteri. Bukankah lebih baik segera—”

“Tidak,” potong suara Pop, “hanya setelah aku mati mereka bisa mengetahui ini. Aku punya alasan yang sangat kuat mengapa aku melakukan ini semua.”

“Tenang saja, Siwon-ah,” sahut Mom, “ini semua demi kebaikan kita semua.” Siwon? Choi Siwon? Apa maksud dari semua ini?! Aku terus menguping, tapi aku baru menyadari bahwa suasananya terlalu tenang. Oh, tidak. Aku tidak berani mengangkat kepalaku. Aku melihat pintu terbuka perlahan dan dengan tanggap aku berguling ke ujung koridor lalu melempar gelas kaca itu ke lantai yang berselimut karpet empuk lantas berjalan seolah aku baru saja sampai di sana.

“Phil.”

“Ya, Pop?” Aku tersenyum polos pada Pop yang berdiri di depan pintu yang baru sepertiga terbuka.

“Sedang apa di koridor di tengah malam begini?” Aku hanya bisa nyengir menanggapi pertanyaan itu. Pop pasti sudah sangat memaklumi cengiranku itu hingga Pop cuma bisa menggelengkan kepala. Hahahahahaha.

*****

Ah... aku masih tidak mengerti pembicaraan mereka malam itu. Benar-benar tidak mengerti. Pada hari ulang tahunku yang ke-16, aku mendatangi ruang kerja Pop di pagi hari—sebelum Pop nanti pergi bekerja. Kutemukan pintu ruangan itu terbuka separuh. Di sana Choi Siwon berdiri memunggungi pintu masuk di depan meja kerja Pop. Ia terlihat tengah membawa sesuatu di tangannya.

“Choi Siwon-ssi,” panggilku dengan kikuk sembari melangkah ke arahnya. Aku tidak menemukan sosok yang ingin aku temui di sana. Dahiku berkerut. “Pop mana?” tanyaku pada Siwon-ssi. Sebelum ia menjawab, aku sudah mencoba untuk mencari Pop di kolong meja, di kamar mandi ruang kerja, di belakang sofa, dimanapun di dalam ruangan itu sambil memanggil-manggilnya.

Mademoiselle,” panggil Siwon-ssi dengan nada yang tidak alami. Aku berhenti mencari dan memandangnya. Dia menunjukkan sepucuk surat berwarna emas—jenis surat khusus yang hanya akan digunakan pada saat-saat istimewa saja oleh Pop. Aku mengambil surat itu dari Siwon-ssi lantas membacanya dengan perasaan kalut.

“POP!” seruku saat aku tahu apa yang Pop tuliskan di dalam suratnya. Aku berlari keluar dari sana, mencari siapapun yang bisa menolongku. “MOM! UNNIE! DONGSAENG! GRANDMA! GRANDPA!!! AJUSSHI! AJUMMA!” Dalam sekejap semua orang datang. “Pop pergi...!”

“Oh... pergi kerja. Aku kira kenapa...” kata Tian-unn.

“Saya rasa bukan.” Semua mata mengarah ke belakangku. Siwon-ssi berdiri di sana.

“Kok...?”

“Lha... Oppa kemana?”

Saat semua kebingungan, Mom tanpa basa-basi menarik Siwon-ssi dan pergi bersamanya dengan Yoochun-ssi sebagai supirnya. Semua cuma bisa memandang. Dari tempat kami berdiri, ternyata kami juga bisa menemukan Grandma pergi bersama Grandpa ke arah yang sama dengan Mom dan Siwon-ssi. Apa ini? Kemana Pop? Aku tidak mengerti... Pop pergi... pergi untuk berapa lama? Kemana? Mengapa? Aku tidak mengerti... Kenapa Siwon-ssi dibawa juga? Kenapa Mom seolah menyuruh Siwon-ssi mengatakan sesuatu? Aku tidak mengerti...

 

Tags:

Comments

( 2 comments — Leave a comment )
fakeinnocent
Feb. 16th, 2010 10:31 am (UTC)
Thanks
Oh my godness... Pop... T.T
thx bgt yah. Aq terharu... T.T
tapi endingnya... Endingnya... Knp menggantung spt itu?? Aq penasarn dgn ap pikiranmu. Ku mohon teruskan...
lumienarc_1329
Feb. 17th, 2010 04:53 am (UTC)
Re: Thanks
Jekekekeke... saia kira kamu nggak baca. Heih? Teruskan? Teruskan apa? Teruskanlah~ teruskanlah~ *dikemplang gara-gara malah nyanyi*

Jekekeke... besok dueh kalo udah rampung ujian
( 2 comments — Leave a comment )