?

Log in

Previous Entry | Next Entry

Rahasia terbesar yang tidak diketahui hingga sekarang, dibongkar.

           

Pada bulan Februari, dimana salju masih menyelimuti permukaan bumi yang indah di Barcelona, saya akhirnya merasakan masa pensiun yang rasanya masih terlalu awal. Saya tengah bercengkrama dengan tuan muda di dekat perapian, sembari menikmati kopi panas yang sedap. Hari-hari terlewati dengan penuh kemudahan akhir-akhir ini walau terkadang pertengkaran suami-istri muda ini mampu membuat malam beku seperti di Antartika. Monsieur menggunakan nama Édouard du Valois dalam penyamaran selama bekerja menjadi jurnalis di kota ini dan saya akui itu sangat berhasil bagi kami. Madame sendiri kini tengah duduk di kursi rotan, sedikit jauh dari kami, sibuk merajut sebuah topi kecil.

            “Kau tahu, Oscar, aku mulai berpikir kalau aku harus kembali ke Auxerre,” kata Monsieur tiba-tiba. Saya tidak terkejut. Walau bagaimanapun, beliau adalah seorang keturunan bangsawan yang dididik untuk menjadi pemimpin. Dia tidak akan pernah mau melarikan diri dari tanggungjawabnya.

            “Kenapa kau ingin kembali, suamiku?” Madame bertanya dengan lembut tanpa meninggalkan perhatian pada rajutannya. Kami berdua menoleh padanya. Ada perasaan yang tidak mengenakan ketika Madame bertanya.

            “Saya tidak akan heran dengan reaksi keluarga Anda ketika mengetahui apa yang telah Anda lakukan selama enam bulan ini, Monsieur. Anda telah melarikan diri dari istana, menikahi seorang wanita yang tidak disukai oleh keluarga Anda, dan...” pandangan saya jatuh pada perut Madame, “sebentar lagi akan memiliki seorang anak darinya.”

Madame mengelus perutnya yang buncit dengan lembut dan penuh kasih sayang. Monsieur menghela nafas panjang dan meletakkan cangkir kopinya.

            “Aku tahu ini akan menimbulkan polemik,” katanya, “maka dari itu aku memerlukan bantuanmu, Oscar. Sekali lagi.”

            “Saya siap membantu Anda, Monsieur, hanya saja saya ingin memastikan apakah Anda benar-benar tahu resiko dari rencana Anda ini,” ujar saya dengan pelan.

            “Aku tahu ini akan sedikit sulit, tapi bukannya aku tidak tahu resiko apa yang mungkin akan muncul nantinya. Maka dari itu, aku sangat memerlukan bantuanmu,” jelas Monsieur sambil menyatukan kedua belah telapak tangannya di depan bibirnya.

            “Kalau begitu, saya tidak akan pernah menyesal membantu Anda sekali lagi.”

            “Suamiku...”

Monsieur memotong kalimat isterinya dengan mendekatinya. Beliau menggenggam kedua belah tangan isterinya dengan erat dan memandangi wajah isterinya dari bawah.

            “Fidelle, aku rasa sebaiknya kau bersembunyi dulu selama aku kembali ke chatêau, menyelesaikan semua masalah yang telah aku timbulkan selama enam bulan ini,” katanya.

            “Jadi... kau akan meninggalkanku?” tanya Madame dengan polosnya.

            “Bukan—tidak aku—bukan begitu. Aku hanya akan meninggalkanmu sebentar untuk menyelesaikan masalah dan menyiapkan kedatanganmu bersama anak kita. Akan sangat berbahaya bagimu untuk bepergian jauh dengan kandungan yang sudah semakin tua ini.”

            “Tapi... kalau tidak ada kau...”

            “Untuk itulah ada Oscar di sini. Dia akan menjagamu seperti halnya menjagaku.”

Terjadi keheningan setelah kalimat itu selesai. Saya tersenyum tipis. Saya tahu apa yang beliau rencanakan.

            “Kau terlindung karena aku sekarang menggunakan nama Valois,” tambah Monsieur. Ya, Édouard adalah nama putraku yang meninggal sebelum dilahirkan. Hatiku hancur mengetahui anak pertamaku tidak akan pernah aku gendong dan sekarang hatiku sedikit miris ketika mendengar kata-kata orang muda yang sebaya dengan putraku jika putraku masih hidup itu.

            “Tenang saja, Madame. Saya akan menjaga Anda,” kata saya untuk menenangkan Madame yang takut ditinggalkan sendirian oleh suaminya.

            “Oscar,” Monsieur berdiri, “isterimu ada di Madrid, bukan?”

            “Benar, Monsieur.”

            “Mari kita berkunjung ke sana.”

*****

            Pagi-pagi buta, kami bertiga berangkat dari Barcelona ke Madrid. Perasaan yang bercampuraduk membuncah di dalam dada saya. Sudah bertahun-tahun saya tidak pulang ke kampung halaman isteri saya—yang setelah trauma dengan keguguran kandungannya langsung memilih untuk kembali ke kota besar itu. Apakah isteri saya masih mau menerima suaminya yang sudah lama tidak kembali ini?

            Kehangatan matahari yang sangat sedikit itu separuh lenyap saat akhirnya kami bertiga melangkah keluar dari kereta. Keriuhan stasiun membuat kami terus berdekatan agar kami tidak terpisah. Banyak sekali yang berubah di kota besar ini. Bangunan-bangunan besar nan indah telah berdiri kokoh di pusat kota meski tampaknya pekerjaan mereka belum selesai. Cahaya suram membanjiri seluruh bagian kota yang selalu dipadati orang. Para wanita mengenakan mantel hingga mendekati tumit sedangkan para prianya mengenakan mantel pendek. Udara memang sedikit mengigit pagi ini saat kami berkendara melalui jalanan utama di jantung Mandrid. Di mata Madame Fidelle yang baru pertama kali datang ke kota ini terlihat kekaguman akan keindahan arsitektur bangunan kota yang luar biasa.

            C'est tellement magnifique!” katanya dalam melodi yang penuh puja.

            “Ini lebih indah dari sebelumnya,” ujar Monsieur, “Ini memang kota yang cantik.”

            Di depan sebuah bangunan yang terletak tidak jauh dari Calle del Conde de Peñalver. Bangunan itu, seperti kebanyakan bangunan di saat itu, berdiri tegak dengan banyak balkon tertempel di muka bangunan. Banyak di antaranya dihiasi pakaian yang tengah djemur dan pot-pot bunga kecil. Saya memimpin mereka masuk ke dalam. Saya masih ingat dengan jelas dimana dulu saya tinggal bersama isteri saya di sini. Kami menaiki tangga ke lantai tiga dan berjalan melalui koridor untuk menemukan pintu dengan nomor ganjil ketiga. Pintunya bercat warna aqua, polos, tapi bersih. Saya mengetuk perlahan dengan perasaan yang benar-benar tidak keruan. Ketika terdengar suara langkah kaki yang mendekati pintu, saya merasa semakin tidak sabar. Seorang wanita tua membukakan pintu untuk kami.

            Buenos—ah! NoNo puedo creerlo… apakah itu kau, Oscar?” tanyanya, sama sekali tidak percaya.

            “Ini aku, Carmen.”

            “Oh Tuhan…” Wanita tua itu menangis dan tanpa pikir panjang langsung memeluk saya. “Aku kira kau tidak akan pernah kembali…”

            “Aku pikir juga demikian.” Ini seperti mimpi. Saat Carmen akhirnya melepaskan dekapannya, matanya tertuju pada kedua sosok muda yang berdiri di belakang saya.

            “Oscar, siapa pasangan muda ini?” tanyanya.

            “Oh, ini Monsieur Eirwyn, putra tertua keluarga Conglée, dan isterinya, Madame Fidelle,” jawab saya.

            ¡Dios mío!” serunya, terkejut, “¡Lo siento, Señor!” Carmen secara otomatis memberi hormat pada Monsieur dan Madame.

            “Tidak perlu, tidak perlu begitu!” kata Monsieur sambil menghalangi gerakan Carmen untuk memberinya hormat. “Kita di sini sama saja, tidak perlu formal.”

            “Tapi ini…” Carmen masih bersikeras karena ini sungguh tidak biasa.

            “Kami kemari sebagai orang biasa, Madame.”

            “Oh… ah… sesuai dengan perkataan Anda, Monsieur,” kata Carmen pada akhirnya. Dengan wajah penuh cahaya kegembiraan, dia melangkah mundur untuk membuka pintu lebar-lebar. “Mari masuk, biar saya buatkan secangkir café con leche dan beberapa churros untuk Anda.”

            Kami masuk satu persatu. Ruangan di dalamnya masih sama dengan terakhir kali saya berada di sana. Perabotannya, harum masakan dari dapurnya, semua masih sama seolah saya baru saja pergi kemarin dan kembali hari ini. Kami dibawa ke dalam dapur yang sekaligus ruang makan. Terdapat satu meja dengan empat kursi mengelilinginya. Carmen menarik salah satu kursi untuk Madame Fidelle—mengetahui Madame sedang mengandung tentu membuatnya tidak ingin membuat Madame tidak nyaman. Dia setengah berlari ke lemari makanan, mulai membuat café con leche—kopi espresso yang sangat kuat dengan banyak susu.

            “Ah, sepertinya kita kehabisan churros—saya lupa—mana yang lebih Anda sukai, Monsieur, Madame, magdalenas atau torrijas?”

            “Bagiku apa saja tidak masalah,” jawab Monsieur.

            “Aku mau torrijas saja,” jawab Madame sambil mengelus perutnya.

            “Baiklah…” Carmen meletakkan sepiring magdalenas dan sepiring torrijas di atas meja. “Ah Madame, Anda mau secangkir cokelat panas?”

            “Iya, dan tolong berikan susu di dalamnya.”

            “Tunggu sebentar, Madame. Saya akan membuatkannya untuk Anda.” Carmen kembali sibuk dengan cangkir dan air panas. Dia terlihat begitu bersemangat. Tidak sampai lima menit dia kembali menghampiri meja dengan tiga cangkir café con leche dan secangkir cokelat-susu panas.

            “Cantik sekali!” seru Madame saat melihat permukaan cokelat-susu panasnya yang dipenuhi busa putih dan butiran cokelat yang membentuk gambar hati.

            Gracias,” kata Carmen, tertawa malu-malu. “Silakan, makan dan minumlah, kalian berdua pasti lelah setelah perjalanan dari Perancis.”

            “Kami tidak benar-benar datang dari Perancis hari ini, Carmenita,” kata saya seraya meletakkan kembali cangkir kopi saya ke alasnya. Carmen menatap saya penuh tanya.

            “Kami sampai di Spanyol sekitar enam bulan yang lalu, kami tinggal di Barcelona,” sambar Monsieur yang telah menghabiskan satu magdalena, “Aku sedang menghadapi masalah yang mengharuskanku pergi dari Auxerre—dari Perancis—dan Oscar menemaniku.”

            “Enam bulan?” Suatu nada dan bentuk ekspresi dari Carmen membuat saya angkat bicara.

            “Bukan aku tidak mau menemui secepatnya, Carmen, tapi ini adalah masalah yang sangat rumit, aku tidak bisa meninggalkan mereka dan menemuimu di Madrid—”

            “Bukan itu, Oscar, tapi saya ingin tahu masalah apa yang bisa memaksa bangsawan seperti Anda melarikan diri dari Perancis?”

            “Ini tentang istriku,” jawab Monsieur dengan jujur, matanya melekat pada mata istrinya.

            “Oh!” Carmen mengetahuinya tanpa harus mendengarkan cerita apapun. “Dios mio… mengapa mereka tidak menyukai Madame Fidelle? Saya tidak melihat apapun yang salah dengannya? Apakah itu karena status sosialnya—seperti alasan para aristrokat yang lain?”

            “Tidak meleset,” Monsieur mengalihkan perhatiannya ke cangkir kopinya, “untuk itulah aku datang kemari. Aku ingin menitipkan istriku di sini bersamamu, Madame.”

            “Oh… dengan senang hati saya akan merawatnya, Monsieur.”

            “Dan aku akan meninggalkan Oscar di sini bersama kalian, tapi aku harus mencari seseorang untuk menggantikan posisi Oscar.”

            “Saya tahu siapa yang pantas untuk itu, Monsieur, tunggu sebentar,” kata Carmen sebelum saya sempat menjawab. Carmen berdiri dan berjalan meninggalkan kami. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan seorang pemuda bermata sempit dan rambut lurus yang sedikit berantakan.

            “Ini Park Youngkyu, Monsieur. Dia datang dari Amerika untuk bekerja, dia cepat menghapal tempat dan arah, dia juga cepat mempelajari bahasa.”

            “Berdarah Korea, tinggal di Amerika, dan bekerja di Spanyol. ¿Cuántos años tienes?

            Veinte, Señor.”

            Bueno.”

*****

            Akhirnya Monsieur benar-benar kembali ke Buorgogne, meninggalkan isterinya yang setiap malam selalu merindukannya. Beliau dengan rutin mengirim sepucuk surat pada kami di Madrid. Pada awal April, beliau kembali ke Madrid. Madame Fidelle harus merelakan anaknya dilahirkan sebelum usia kandungannya sembilan bulan. Syukurlah anaknya berhasil bertahan hidup. Anak pertama mereka diberi nama André Dieudonné Amadieu de Conglée. Ya, anak pertama mereka adalah anak laki-laki, tapi semua orang tahu kalau Le Duc de La Bourgogne Cachée tidak memiliki anak laki-laki, semua anaknya perempuan. Apalah arti dari kata “rahasia” jika semua orang tahu?

            Semuanya berjalan dengan sangat lancer selama setahun lebih. Tidak satu pun anggota keluarga Monsieur yang mengetahui pernikahannya dengan Madame ataupun kelahiran si kecil André yang tampan. Monsieur bahkan menyempatkan diri untuk datang pada hari ulang tahun pertama putranya saat beliau seharusnya berlayar ke Portugal untuk urusan bisnis, tapi siapa yang peduli dengan bisnis saat anak pertamamu merayakan ulang tahun pertamanya? Tuan muda André tumbuh menjadi anak yang lincah dan lucu. Dia mempunyai mata dan bibir yang mirip dengan ibunya—tapi tak bisa dipungkiri bahwa dia nanti akan memiliki pandangan setajam ayahnya—dan banyak bagian tubuh yang lebih mirip ayahnya. Carmen sangat bahagia mengurus anak ini.Dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukannya selama bertahun-tahun.

            Pada suatu hari di minggu terakhir bulan Oktober, Monsieur datang dengan wajah yang agak kusam. Dia terdiam begitu lama hingga kami bingung harus bersikap bagaimana. Setelah kesunyian yang begitu lama, akhirnya beliau bicara, “Mereka sudah tahu.”

            “Tahu apa? Siapa?” tanya Madame, khawatir.

            “Memang, cepat atau lambat mereka pasti akan tahu,” kata saya. “Tidak mungkin selamanya disembunyikan.”

            “Apa? Apa yang kalian bicarakan?”

            “Aku tidak tahu apakah aku harus memberitahukannya terang-terangan atau…”

            “Anda harus segera mengumumkannya sebelum mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” potong saya.

            “Hei!” teriak Madame, tidak sabar, “Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku!”

            “Fidelle,” suara Monsieur begitu lemah, “keluargaku telah mengetahui pernikahan kita. Mereka sudah tahu bahwa kau ada di sini, di Madrid.” Wajah Madame menjadi sama layunya dengan wajah suaminya, penuh dengan keputusasaan. Beliau menjatuhkan dirinya ke kursi dengan lemas.

            “Aku tidak percaya… kehidupanku sudah begitu indah selama dua tahun ini…”

            “Aku rasa kita harus ke Auxerre, bersama André…”

            “Kau sudah gila! Kau ingin anak kita dibunuh?!” teriak Madame dengan penuh emosi. Beliau sudah berdiri dan tampak tidak ingin berkompromi.

            “Bukan begitu, sebentar lagi aku akan menggantikan ayahku, aku tidak akan bisa mengunjungi kalian sesering sebelumnya. Mungkin aku hanya akan punya waktu sehari dalam setahun. Pekerjaan ini sangat tidak memungkinkanku untuk pergi ke luar negeri terlalu sering, aku harus terus berada di Perancis. Jika aku bisa pergi ke luar negeri itu pasti dengan maksud yang berhubungan dengan bisnis dan pemerintahan. Aku tidak mungkin kembali lagi ke sini tanpa menarik perhatian orang. Mengertilah, aku tidak mau terlalu jauh dari kalian, aku mungkin tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada kalian saat aku berada di chatêau. Aku tidak mau apapun terjadi pada kalian.”

Madame Fidelle menghela nafas panjang dan kembali ke kursinya dengan wajah yang layu. Saya mengakui betapa sulitnya memutuskan ini semua.

            “Saya kira lebih baik menghadapi secara langsung keluarga Anda daripada bergerilya, Monsieur, tapi itu kembali lagi pada pertimbangan Anda.”

*****

            Pada malam Halloween, kami pergi ke Gran Via dimana parade besar-besaran tengah diadakan. Semua orang berkumpul di tepi jalan, menikmati arak-arakan yang indah sekaligus menakutkan. Nyanyian dan tarian meramaikan malam yang gelap. Bangunan-bangunan berpedar remang memantulkan cahaya dari lilin-lilin dan lampu-lampu hias. Keriangan yang tercipta tidak memberikan ruang bagi kami untuk berpikir bahwa ini merupakan saat bahagia terakhir bagi keluarga muda kecil itu.

            Pagi setelah perayaan besar, saya dengan berat hati melepaskan genggaman Carmen sembari berjanji untuk kembali padanya sekali lagi sebelum saya menghela nafas terakhir saya. Saya pergi bersama keluarga kecil itu ke stasiun kereta. Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang. Dari Madrid, kami akan melewati Barcelona lalu melewati perbatasan negeri dan melaju hingga Montpellier. Dari Montpellier kami akan meneruskan perjalanan ke Dijon. Di Dijon, kami akan meneruskan perjalanan dengan mobil ke Auxerre. Ini memang akan menjadi perjalanan yang sangat panjang…

            Terlalu banyak beban yang harus dibawa oleh seorang yang sangat muda seperti Monsieur Eirwyn. Beliau banyak melamun selama perjalanan saat beliau tengah terjaga. Perjalanan itu terasa begitu menjemukan hingga si kecil André hanya bisa menyibukkan diri dengan mainannya. Semua terasa begitu menjenuhkan hingga kami harus turun dari kereta untuk menunggu kereta yang akan mengantar kami ke Perancis. Situasi begitu tidak memungkinkan. Kami berdesakan hingga kami tidak bisa merasakan gandengan tangan kami dan kami nyaris tidak bisa bernafas dengan bebas. Saya mendengar Madame Fidelle berteriak-teriak, “André! André!” Saya kalut, kami bertiga kalut mencari sang pangeran kecil. Saya mendengar tangisan yang samar-samar, saya melihatnya, sang pangeran, di tengah lalulalang, menangis mencari ibu dan ayahnya. Saya harus ke sana untuk mengambilnya, membawanya kembali, tapi tubuh saya yang renta terpojokkan. Saya berusaha sekuat tenaga untuk melawan namun saya berhasil, sang pangeran sudah lenyap. Tidak ada tangisan, tidak ada sisa-sisa jejak dari laki-laki kecil itu.

            Kereta akhirnya berangkat tanpa kami. Madame Fidelle menangis tanpa henti di atas lantai kotor, memanggil-manggil nama putranya. Monsieur terus berusaha dengan bertanya pada siapapun yang beliau temui.

            “Dia terlepas dariku… dia terlepas dari tanganku… aku tengah menggendongnya… tapi mengapa dia hilang? Putraku…” rintih Madame Fidelle. Keputusasaan yang sempat berkurang kini bertambah dan kesedihan menaungi kami bertiga. Saya tahu rasanya kehilangan seorang putra. Seandainya saja saya lebih kuat dan lebih berusaha untuk melawan arus orang itu… saya pasti sudah bisa menyelamatkan puta mereka… seandainya saja. Seandainya. Madame menolak untuk kembali ke Auxerre. Saya menawarkan diri untuk membawanya ke Saint-Tropez, tapi beliau menolak. Beliau menyuruh saya untuk kembali pada Carmen dan memaksa suaminya pergi Auxerre tanpa dirinya, dan begitulah akhirnya… rahasia ini tetap menjadi rahasia hingga hari ini.

Comments

( 1 comment — Leave a comment )
jung_pennie
Oct. 25th, 2010 02:57 pm (UTC)
i've read it!
and.. anak saia kemana?
My Hubby, anak saia kemana?
dimana?
ANAK KITA!!
huwehhhh....
cepat jelaskan!
kenapa anak kita bisa hilang? aku tidak ingat telah menghilanhgkan anak kita..
tapi, ini...
argh....
don't know....


Btw, ini mirip banget ama lagi baca historical stories...
gimana kalo udah endingnya, kamu kirim ke penerbit??
*ini bukan saran, tapi sejenis paksaan*
( 1 comment — Leave a comment )