?

Log in

Previous Entry | Next Entry

Ada dua rahasia besar yang tersembunyi di balik kastil indah ini yang kelihatan selalu tenang ini... Keduanya akan diceritakan oleh Oscar Alexis de Valois, mantan supir pribadi sang pemilik rahasia….

Ini adalah cerita dua puluh tahun yang lalu. Bonjour, saya adalah orang yang selalu mendampingi putra tertua Duc de La Bourgogne Cachée, Marquis Eirwyn. Nama saya Oscar, Oscar Alexis de Valois. Saya adalah pria tua yang sudah mengenal orang yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga yang hidup di dalam kastil tua yang tersembunyi itu.

Pada suatu malam yang lembab di akhir musim panas, saya tengah mengantarkan sang bangsawan muda ke Paris, seorang perempuan tiba-tiba saja berjalan ke tengah jalan dan nyaris saja tergilas bemper mobil Rolls itu. Tuan muda yang sejak kedatangannya di kota menjadi sangat dingin hampir tanpa pikir panjang keluar dari mobil tanpa menunggu pintu dibukakan untuknya. Beliau melangkah dengan tegas ke depan dan saya bisa melihat matanya berkilat kemerahan oleh amarah yang tak terkendali—semua itu pasti dikarenakan oleh para bangsawan yang mendesaknya untuk membuka akses ke daerah terlarang di Auxerre, daerah kediaman La Famille de Conglée.

“Ah, pardon! Pardon!” terdengar cicit seorang wanita muda.

“Mademoiselle, apa yang Anda lakukan?! Apa Anda tidak bisa melihat cahaya mobil yang mendekati Anda?!” Itu Monsieur Eirwyn. Saya memutuskan untuk keluar secepat mungkin agar nona yang sedang tidak beruntung itu tidak menjadi pelampiasan amarah sang pewaris.

“Ampuni saya, Votre Altesse! Saya sedang terburu-buru!” kata perempuan itu sambil membungkuk dalam-dalam. Gaunnya terlihat indah namun sudah terlalu kumal dan tua. Dandanannya tidak terlihat seperti gadis biasa yang tinggal di Paris. Saya pikir saya tahu darimana asal gadis ini. Dia pasti datang dari Rumania atau mungkin, didatangkan—secara diam-diam tentu saja.

“Ini bukan masalah mengampuni atau memenjarakanmu, Mademoiselle! Angkat wajahmu!” perintah pria muda itu sambil mempererat genggaman tangannya pada tongkatnya yang hitam dan pendek, berpangkal perak. Perempuan itu dengan takut-takut mengangkat kepalanya dan memandang pria yang ada di depannya dengan tatapan ragu. Wajahnya cantik, tapi tertutup jelaga dan keringat yang kurang lazim bagi seorang wanita muda. Monsieur Eirwyn tidak mengubah ekspresi wajahnya, semuanya tersimpan rapi di balik tatapannya yang kini berubah sedikit.

Altesse...”

Hold it there,” potong pemuda cerdas itu sebelum saya menyampaikan pemikiran saya. “Comment vous appellez-vous?” tanyanya pada perempuan itu.

Ils m'appelent Chiffoné,” jawabnya lirih seraya menurunkan kembali wajahnya.

Quel malhereux, une belle a un mauvais nom,” ujar Monsieur dengan nada yang terdengar begitu arogan di permukaan dan lembut di sela-selanya. Dengan mudah saya mengerti bahwa ada sesuatu yang istimewa yang pria muda ini lihat dalam perempuan yang terlihat tidak pantas sama sekali untuknya itu. Seperti kebanyakan pemuda bangsawan yang lain, Monsieur Eirwyn mengakhiri pertemuan itu dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan sebelum berbalik dengan tegas dan melangkah kembali ke tempatnya yang seharusnya di dalam mobil mahal itu, meninggalkan gadis yang tidak tahu apa-apa itu dengan rasa panik yang tidak terkendali di dalam rongga dadanya.

Bonjour, Mademoiselle,” salam saya seraya melepas topi.

Kembali ke dalam mobil, ditemani rasa dingin yang menghangat, saya mulai menghidupkan mesin dan menjalankan kembali mobil cantik itu. Dari cermin yang tergantung di atas kepala saya, saya bisa melihat bahwa sang bangsawan muda terus memperhatikan wanita muda yang baru saja kami tinggalkan di tepi jalan yang sepi itu meski diam-diam.

“Berhenti, Oscar,” perintah Monsieur tiba-tiba.

“Ada apa, Votre Altesse?” saya bertanya, tapi beliau tidak menjawab dan langsung menghambur keluar. Saya menyusul tuan saya yang baru akan berusia sembilan belas tahun musim dingin ini. Pria muda itu berlari kembali ke tempat dimana perempuan itu kami tinggalkan. Di sana telah ada seorang perempuan bertubuh gemuk berambut cokelat keriting yang terlihat tengah membawa cambuk kuda dan seorang pria dengan tuxedo lusuh dan topi tinggi yang keabu-abuan. Pria jangkung yang rambut pirangnya mencuat tidak beraturan dari topinya itu menarik lengan Chiffoné dengan kasar sambil memaki. Saya yakin sekali bahwa nona muda itu tadi tengah mencoba melarikan diri dari mereka. Perempuan gemuk yang sejak tadi hanya menonton dan ikut memarahi saja itu tampak mulai kesal dengan sikap Mademoiselle Chiffoné yang terus-menerus melawan kehendak pria jangkung itu.

Chienne!” teriak perempuan gemuk yang memakai gaun warna merah marun itu sembari mengangkat tangannya yang memegang cambuk. Chiffoné menangis lirih dan berteriak rendah. Dia menurunkan tubuhnya agar beban bagi pria yang ingin membawanya pergi itu bertambah dan agar nyonya gemuk itu tidak mencambuknya. Wajahnya sepucat kastil putih, dipenuhi horor. Dia menutup matanya rapat, tapi cambukan itu tidak pernah datang. Monsieur muda menghentikannya dengan tongkatnya.

“Lepaskan perempuan ini.” Itu adalah sebuah perintah. Pandangannya begitu membekukan dan pasangan aneh itu menelan ludah mereka dengan hati-hati. Mereka memandangnya lekat-lekat, dari ekpresi wajah mereka, saya tahu bahwa mereka mengerti siapa orang yang sedang berada di hadapan mereka saat ini. “Dia milikku. Aku yang menemukannya terlebih dulu. Jika kalian tidak setuju dengan kata-kataku, silakan protes.”

Altesse, Duc de La Bourgogne Cachée, maafkan sikap kami yang tidak sopan ini,” kata si wanita gemuk perlahan, “tapi perempuan ini sudah dipesan—...”

“Dia milikku. Kalian telah lalai dan membuatnya berada di sini saat aku bisa melihatnya dan menemukannya. Sekarang kalian sudah tidak bisa mengambilnya lagi dariku,” potong Monsieur Eirwyn lagi dengan cepat dan tegas.

“Tapi, Monsieur...” si nyonya kembali mencoba berargumen.

“Siapa namamu, Madame?” tanya Monsieur Eirwyn.

“Johanna Beaulmont, Monsieur.”

“Madame Beaulmont, dan Anda?” Pemuda itu berpaling pada orang yang berdiri dengan kikuk di samping Madame Beaulmont.

“Baudouin Beaulmont—adik laki-laki Johanna.”

“Oh, Beaulmont bersaudara. Aku akan mengingat kalian. Mari, Mademoiselle.”

Sekali saya tekankan betapa dinginnya pria yang saya temani selama masa mudanya ini. Beliau tidak sekalipun memandang kedua orang itu lagi setelah kalimat terakhirnya diucapkan. Saya membantu nona yang masih terguncang itu untuk berdiri dan berjalan mengikuti pria kaya yang baru saja sampai di sisi mobil. Saya masih belum mengerti apa yang akan terjadi saat itu, tapi saya bisa memperkirakannya beberapa hari setelah kejadian itu.

*****

Salah satu tindakan paling kontroversial dari pria muda ini adalah keputusannya untuk menikah dengan Chiffoné—yang sudah berganti nama menjadi Fidelle saat itu—pada suatu hari yang basah di bulan September. Latar belakang Fidelle yang diragukan membuat hampir seluruh anggota keluarga menolaknya, tapi melebihi semua itu, yang membuatnya tidak diterima adalah keputusan putera tertua yang sangat tiba-tiba itu. Semua orang yang mengenalnya tidak akan pernah menyangka bahwa sosok idealis ini bisa membuat suatu keputusan yang benar-benar kilat—mengingat hari itu adalah hari ke-7 setelah Fidelle dibawa ke dalam chatêau, bukan sesuatu yang mengherankan.

“Kau sudah gila, saudaraku,” kata Mademoiselle Fascienne, satu-satunya anak perempuan yang dimiliki Duc Alvern—ayah dari Monsieur Eirwyn, jika kalian tidak ingat—dan istrinya.

“Setuju,” sahut Monsieur Neive—saudara kembar Monsieur Eirwyn, nama aslinya Neiva. “Tapi nona itu cantik dan lembut sekali, aku bisa tahan berbincang dengannya selamanya,” tambahnya sambil berguling di atas sofanya.

“Ehem,” Mademoiselle Fascienne berdeham, memperingatkan. Kakaknya langsung mengunci rapat bibirnya. “Pikirkan lagi, mon frère.”

“Fine,” sahut Monsieur Eirwyn dengan singkat dan dalam. Tanpa menunggu lagi, beliau berdiri, meninggalkan kursi nyamannya dan meninggalkan semua anggota keluarganya. “Oscar.”

“Oui, Mon Marquis, Votre Altesse,” saya menjawab dengan segera.

“Eirwyn!” sang ibu memanggil namun tampaknya sang putera tengah tidak ingin mendengarkan ibunya. Saya hanya bisa membungkuk, berpamitan dengan mereka.

Anak tertua ini telah mengikuti semua yang diinginkan orang tuanya selama hidupnya. Saya tahu itu, sangat tahu. Anak tertua ini sebenarnya lebih senang berada di atap daripada di dalam kamar yang penuh dengan bau bangsawan, tapi beliau hanya sesekali ke atap. Apapun yang dikatakan oleh orang tuanya, anak ini selalu menuruti. Keadaan sekarang sudah berubah. Usianya sudah nyaris sembilan belas tahun, pencarian jati dirinya sudah dimulai.

“Oscar, aku akan tetap menikahinya akhir minggu ini,” katanya pada saya ketika kami sudah mencapai pintu utama.

Altesse, ini akan sangat sulit dijalani,” kata saya padanya.

“Anda terlihat lebih bijak daripada ayahku sendiri, Oscar. Senang Anda berada di sini denganku. Aku akan melakukan yang aku inginkan kali ini,” ujarnya tanpa basa-basi. Sepatunya yang hitam menggemakan suara tegas.

“Saya sangat senang bila saya bisa membantu Anda, Monsieur.”

“Terima kasih, Oscar,” beliau tersenyum dengan hangat kepada saya–untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya, saya melihatnya tersenyum sedemikian hangat. “Anda tahu, perempuan ini memiliki sesuatu yang sangat aku tunggu. Dia terlihat sangat luar biasa.”

“Saya tahu, Monsieur,” jawab saya seraya membukakan pintu mobil untuknya, “Mata Anda menceritakan segalanya.”

“Berarti Anda sudah tahu kemana aku ingin pergi?”

“Tentu saja, Monsieur.”

*****

Ini adalah rahasia yang seharusnya tidak saya biarkan menyebar, tapi inilah waktunya untuk kebenaran. Pemuda itu telah membawa Fidelle ke sebuah rumah sederhana di Saint-Tropez. Beliau melamarnya di sana, sendirian, tanpa keluarganya. Di rumah yang begitu sederhana, bukan istana yang sudah turun-temurun dihuni oleh bangsawan kaya raya.

Ketika kami sampai di sana, terlihat jelas Fidelle sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Wajahnya yang penuh jelaga kini sudah bersih dan kecantikannya tidak lagi tertutupi. Ketakutan dan horor yang sebelumnya diciptakan oleh Beaulmont bersaudara sudah memudar sedikit. Matanya tidak lagi merah dan bengkak karena dia sudah tidak pernah menangis dan tidurnya cukup. Pakaiannya memang tidak mewah, tetapi sangat rapi dan wangi—seperti mawar. Pipinya merona merah muda dan rambutnya tergerai indah. Dia disibukkan hanya oleh pekerjaan rumah untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang banyak seolah dia adalah seorang budak. Dia duduk di kursi kayu yang masih baru, merajut sebuah syal berwarna kebiruan. Dia bersenandung merdu hingga dia menyadari ketukan pintu.

Monsieur!” serunya dengan senyum merekah di wajahnya. Dia hendak menghormat saat Monsieur Eirwyn menahan badannya.

“Tidak perlu. Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu.” Mungkin karena ini adalah pengalaman pertama baginya, pria itu terlihat sedikit tegang. Ada sesuatu yang membuatnya terlihat sangat panik dan itu mengubah air muka Fidelle yang tadinya secerah musim semi menjadi cemas.

“Ada apa, Tuanku? Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Masuklah,” kata Monsieur Eirwyn, mendorong Fidelle ke dalam rumah. Saya mengikuti mereka, menutupkan pintu. Di sana beliau menyuruh Fidelle untuk duduk kembali di kursi yang tadi ia tempati. Beliau terlihat sangat gugup; tidak mampu duduk; tidak tahu bagaimana harus bersikap.

“Ada apa, Monsieur Eirwyn? Perlukah saya mengambilkan segelas air untuk Anda?” tanya Fidelle, khawatir.

“Tidak, tetap di sana.”

Saya tersenyum kecil saat melihatnya menarik nafas pada akhirnya dan mengelap wajahnya yang dipenuhi keringat dingin. Beliau mencari-cari sesuatu di seluruh pakaiannya. Dengan hati-hati saya menyelipkan sebuah kotak kecil ke tangan beliau yang penuh dengan keringat dingin.

“Ah... aku nyaris mati,” gumamnya rendah sehingga hanya beliau dan saya yang bisa mendengarnya.

“Monsieur... saya rasa Anda memang butuh...” Fidelle mencoba untuk mengungkapkan kepeduliannya pada kondisi bangsawan muda itu.

Non, je vais bien,” potong Monsieur Eirwyn dengan sigap namun gugup. Beliau mulai mendekati Fidelle yang masih terus bertanya-tanya. Saat beliau perlahan berlutut di hadapannnya, Fidelle mulai berkaca-kaca dan berspekulasi tentang apa yang mungkin terjadi.

Veux-tu m'épouser?

Akhirnya kalimat itu berhasil keluar dari mulutnya dengan sangat lancar dan tulus. Beliau menyodorkan sebuah kotak beludru merah yang berisi sepasang cincin emas putih pada Fidelle. Perempuan itu jauh lebih kehabisan kata-kata daripada orang yang berlutut di depannya. Dia hanya mengangguk dan menerima kotak cincin itu dengan wajah yang dipenuhi air mata kebahagiaan. Monsieur Eirwyn memakaikan cincin yang kecil pada jari manis Fidelle yang ramping dan lembut lalu mengecup punggung tangannya dengan kasih sayang. Mereka tidak berkata-kata, hanya menatap satu sama lain hingga akhirnya mereka memautkan bibir mereka dan saling memeluk dengan erat.

Malam itu adalah malam paling hening yang pernah saya alami selama berada di Saint-Tropez. Keesokan harinya, kedua sejoli itu mengajak saya ikut berlayar dengan mereka ke Barcelona. Mereka menikah di sana dan menghabiskan sisa musim dingin di kota yang ramai dan indah itu. Tapi masalah timbul saat ternyata Madame Fidelle mengandung anak dari Monsieur dan ini merupakan rahasia terbesar yang dimiliki oleh keduanya hingga saat ini.

Comments

( 1 comment — Leave a comment )
aganetha_cast
Sep. 23rd, 2010 04:18 am (UTC)
keren pak!
suasana Paris jaman dulu-nya kerasa banget! ><
yang masih jaman hitam-putih g2.
jadi inget sherlock holmes *apa hubungannya?*
XD

ya ampun..
gak nyangka kalo pertemuan pertamanya kek g2. ck ck ck
keren.. keren..
( 1 comment — Leave a comment )